Rabu, 16 September 2009

ajang ekspektasi

Dimas menatap lurus sosok kontradiktif dan kompleks Naya. Sebuah sosok tegas yang justru lebih tegas pada dirinya sendiri, ketimbang orang lain. Sosok angkuh yang pasang harga selangit justru pada dirinya sendiri. Sosok tajam yang lebih setia menghunuskan pedangnya, sekali lagi, justru pada dirinya sendiri.
Sosok yang bermusuhan dengan dirinya ini pun kini terlihat sedang menyelesaikan perangnya. Perang imajinasi yang takkan pernah bisa Dimas pahami. Perang yang lahir dari dunia dan pribadi sosok Naya, sosok kontradiktif yang melahirkan kontradiksi kompleks dalam diri Dimas.
Dan kini Dimas geram. Dia tak ingin lagi ada di luar perang itu. Dia ingin ada di dalamnya. Dia ingin menjadi musuh Naya. Sebuah sosok kuat yang selalu berseberangan sekaligus bersisian dengannya. Sosok yang dapat menentang dan memahami Naya di waktu yang bersamaan. Sosok yang menjadikannya ada dan tiada. Sosok yang menjadi alasan adanya Naya.
Dimas ingin menerobos benteng yang dibangun Naya. Terlalu lama dia berdiam diri membiarkan Naya membangun tembok kokoh itu. Ini waktunya dia meminta haknya. Dia jengah melakukan kewajibannya, membiarkan Naya membangun satu persatu balok batu komponen benteng dingin itu. Terlalu lama putri angkuh itu duduk di singgasananya. Dan detik ini, Dimas akan membawanya. Menyeret sosok kompleks itu, agar mau memandang sosok yang semakin sesak atas deraan angin dingin dari benteng itu.
Dimas menghela sejenak. Dia berusaha mengulum emosinya. Dia tahu benar, dia tak dapat menerobos benteng itu dengan mendobrak gerbangnya, sementara telah terlalu lama dia mengetuk gerbang benteng itu. Dan kali ini dia akan berteriak. Memaksa Naya untuk turun dari singgasananya dan melihat sejelas mungkin sosok yang ingin masuk itu. Sosok yang merasa berhak untuk masuk, namun kini jengah akan lamanya pintu benteng itu terbuka.
“Lihat aku, Naya Andhini”
Setitik ragu melintas di kedipan sekilas matanya. Namun dengan tegas dan tajam, Naya menolehkan pandangannya. Pandangan lurus itu terlihat sedikit goyah oleh sorot lembut Dimas.
“Aku selalu melihat kamu, Dimas”
Senyum tipis yang sinis mampir di wajah konyol Dimas. Wajah yang selalu berhasil menghibur Naya yang gamang.
“Kamu cuma ngelihat sosok yang pengen kamu lihat”
“Aku ngelihat apa adanya kamu, Mas”
“Termasuk perasaan aku?”
Hening.
Tarikan nafas Naya tertahan.
Sekali lagi Dimas membungkam emosinya.
“Apa kamu juga ngelihat aku, Dimas?”
“Selalu dan seutuhnya”
“Termasuk perasaan aku?”
Sekali lagi senyum sinis menghias wajah Dimas.
“Memangnya kamu punya?”
“So, you’ve got the point”
“In which side, Naya? It’s all yours”
Naya menghela nafasnya. Dia terlalu lelah dan jengah. Bukan oleh Dimas, namun lebih pada perang yang kini kembali mengisi kepalanya. Semakin teriakan hati Dimas menjerit, semakin gemanya mengguncang keseimbangan Naya.
Dimas bukan musuhnya.
Dan takkan mungkin menjadi.
Dan dia takkan pernah membiarkan itu terjadi.
“Aku mau kamu jadi milikku, Nay”
“Ini bukan masalah kepemilikan, Dimas”
“Lalu apa?”
“Kita berseberangan”
“Cinta bisa membuat kita bersisian”
Naya tertawa miris.
Dimas menggeram, bingung akan gelak tawa Naya.
Keduanya tenggelam dalam keburaman.
“Kamu baru menunjukkan kita berseberangan”, ujar Naya, akhirnya.
Dimas membisu. Namun wajahnya terlihat bawel dan sesak akan pertanyaan. Lagi-lagi dia terjebak sosok kompleks Naya. Senyum Naya terukir lembut. Kini sorot tajam itu telah pergi. Ada kesepahaman dalam hatinya. Perang itu kini usai.
“Aku perlu tahu perasaanmu, Naya. Kalau itu memang ada”
Hening.
Dalam, Naya menatap sosok akrab dan selalu istimewa di matanya itu. Sosok yang ingin dibiarkannya bebas dan tak terbeban oleh keburaman akan dirinya dan penasarannya.
“Perasaanku nggak penting”
Naya menundukkan kepalanya. Di depannya, ada sosok yang paling ingin dipertahankannya, sekaligus dibebaskannya. Dan sosok itu, mengenali kegamangan yang dilukiskan Naya. Tangan itu pun terulur ke arah Naya, seolah tak memperdulikan jawaban Naya barusan. Menguapkan semua keraguan Naya. Tangan itu hanya butuh sambutan dari Naya, bukan jawaban buram yang kompleks dari sosok kontradiktif.
“Mencinta adalah membiarkannya bahagia”
Naya mengangkat kepalanya. Menatap lurus Dimas.
“Membiarkanmu bahagia”
Dimas mengepalkan tangannya. Menarik uluran itu.
“Kalau kebahagiaanku bersama kamu?”
“Dari mana kamu tahu kebahagiaanmu bersama aku?”
“Dari mana kita tahu kalau kita belum pernah nyoba?”
Naya menggigit bibirnya.
“Perasaan bukan ajang percobaan”, jawabnya geram dan mantab.
“Tapi kita nggak akan pernah tahu tanpa mencoba”
“Dan setelah kita tahu?”
Dimas terdiam. Dia meremas jemarinya. Kembali, Naya seolah menbanting pintu dengan keras, tepat di depan mukanya.
“Yang aku tahu, aku bisa sama kamu, Nay”
“Yang aku tahu, gimana setelah kamu sama aku”
“Hubungan bukan ajang prediksi”
“Tapi ajang ekspektasi”
Hening. Hanya dua sorot yang bergejolak. Dua perasaan yang memberontak. Dua persepsi yang bertabrakan. Dua insan yang memperjuangkan keyakinannya.
“Dan ekspektasiku adalah membiarkanmu bahagia, dari sudut pandang aku, Dimas”

orang-orang bijak

Orang bijak bilang, berpikir sebelum bertindak.
Jadinya, semuanya yang kita lakukan itu, terencana dengan baik. Jauh dari namanya kegagalan.
Tapi kata orang bijak juga, kegagalan itu kesuksesan yang tertunda.
Nah, lho. Bingung.
Lagi-lagi orang bijak bilang, kesuksesan itu 99% latihan.
Latihan itu kan masalah praktek. Learning by doing. Jadinya, kita perlu mikir nggak, sih?
Ok, coba tanya lagi orang bijak.

-Hmm..kenapa nanya sama orang bijak?
*Karena dia kayaknya pinter.
-Emangnya kalo’ pinter selalu punya jawaban? Selalu tahu apa yang mesti dilakuin, selalu jago ambil keputusan?
*Namanya juga orang pinter. Doyan mikir. Jadinya selalu mikir sebelum bertindak. Jadinya tindakannya selalu bener.
-Jadinya kebanyakan mikir.
*Bukannya itu bagus?
-Tanya aja sama yang itu, tuh.
*Yang mana?
-Yang duduk di bangku deket pohon itu.
*Emangnya dia pinter?
-Professor, maaan.
*Wuih, keren. Tapi ngapain dia sendirian di sana?
-Karena dia pinter.
*Lah, kok?
-Jadinya kebanyakan mikir, lelet bertindak. Alamat sendirian terus hingga ke liang lahat, deh. Hahaha
*Emangnya dia kenapa?
-Ah, masalah klise. Orang pinter yang kelakuannya bego.
*Oh ya?
-Yoi. Kelamaan nunggu waktu yang tepat buat nembak cewek. Dikiranya dia udah kompeten buat itu cewek. Nggak tahunya, waktu balik abis ngambil S3 dari Harvard, ternyata itu cewek udah nikah sama sahabat itu professor yang kerjaannya maen mulu dan S1nya nggak selesai, tapi sukses jadi businessman.
*Kenapa dulu nggak ngungkapin dulu sebelum ke Harvard?
-Ya itu. Kebanyakan mikir.
*Wah, bener tuh. Kalo kata film, cinta bisa datang, bisa pergi, tapi nggak bisa nunggu.
-Aaahh, kata siapa.
*Hah?
-Cinta bisa nunggu, kok. Yang jadi masalah itu…
*Apa?
-Cinta butuh kepastian.
*Ets, gimana tuh?
-Coba aja si professor ngungkapin dulu, pacaran, tunangan, janji balik lagi. Sampe botak juga ditungguin, kali. Itu cewek kan aslinya naksir duluan sama itu professor dari dulu banget.
*Yah, bego banget itu professor. Kenapa itu cewek nggak ngungkapin duluan?
-Gimana mau ngungkapin? Mana dia tahu perasaannya si professor
*Makanya, biar tahu, mesti diungkapin dulu.
-Hahaha
*Loh, kok ketawa?
-Manusia itu bego, ya.
*Kenapa?
-Kadang kita suka sombong, ngerasa udah berkorban banget, udah usaha banget. Padahal, ya kalo nggak ada yang tahu usaha kita ya percuma aja. Gimana mau tahu perasaan kita, kalo nggak kita ungkapin? Nggak cukup cuma ngungkapin buat nunjukin, tapi juga nunjukin buat ngungkapin. Coba dulu si professor bilang ke itu cewek kalo dia mau jadi orang sukses biar pantes buat itu cewek, atau si cewek bilang ke professor dia udah lama nyimpen rasa ke professor, sampe mati-matian jadi sahabat paling baik.
*Wah, bener banget tuh
-Yoi, kan?
*Yoi, ntar gue mau nembak gebetan gue, aah
-Sok bener, lo. Emangnya udah pasti diterima?
*Hahaha
-Loh, kok jadi elo yang ketawa?
*Even the smartest person can not always make the smart decision. Kita nggak akan tahu keputusan ini tepat ato nggak, kalo nggak dicoba dulu.
-Learning by doing, nih yee
*Bukan, man. Back to basic aja.
-Hah? Apaan lagi, tuh?
*Hukum alam, siapa cepat dia dapet. Hahahaha

Senin, 15 Juni 2009

MARKETING IN A COMPANY

Divisi marketing atau pemasaran adalah bagian yang selalu ada dalam setiap perusahaan komersil. Entah mungkin dengan nama lain, namun divisi tersebut akan selalu ada dan biasanya justru menjadi ‘anak emas’ di perusahaan tersebut.
Terkadang bahkan ada persaingan antara divisi keuangan dan pemasaran, mengingat divisi marketing yang lebih focus pada pola pemasaran perusahaan dan keuangan yang begitu focus pada manajemen dana dan laba di perusahaan itu.
Karena divisi pemasaran adalah yang bertugas mengelola pola pemasaran di perusahaan, lalu divisi lain seringkali memiliki stereotype bahwa ‘masalah pemasaran tangung jawab divisi pemasaran’, dan disinilah masalahnya.
Kegiatan pemasaran itu, begitu meluas, hingga semua divisi, bagian, stakeholder dari perusahaan itu sesungguhnya harus saling menunjang demi membantu kelancaran proses pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.
Suatu kegiatan pemasaran begitu meluas, hingga mencakup pembentukan brand image dari perusahaan tersebut, dari merek yang disandang perusahaan itu. Sebaik apapun treatment pemasaran dan se-top apapun para pejabat pemasaran dalam divisi pemasaran tersebut, tidak akan dapat menjamin keberhasilan dari strategi pemasaran yang dilakukan apabila tak ditunjang dengan kolaborasi kerjasama dalam semua bagian dalam perusahaan itu. Dengan kata lain, manajemen perusahaan yang solid dapat menunjang keberhasilan proses pemasaran di perusahaan tersebut.
Saya mendengar sebuh cerita mengenai kekurangjelian sebuah perusahaan travel terhadap pola manajemen perusahaannya.
Travel ini berdiri sekitar pertengahan tahun 1990-an, dan berlokasi di Bandung. Singkat cerita, travel ini pada asalnya adalah sebuah perusahaan yang benar-benar dibangun dari bawah oleh pemiliknya, dengan pribadi pemiliknya yang baik dan selalu berusaha menyejahterakan bawahannya.
Pada awalnya, pola manajemen yang begitu ‘makmur’ dan kekeluargaan di travel ini sanggup membuat karyawannya merasa nyaman, hingga ada kepuasan dan optimalisasi dalam kinerja karyawan dan para drivernya, dan tentunya ini dapat meningkatkan kepuasan konsumen juga akan pelayanan dari karyawan dan drivernya tersebut.
Hingga akhirnya sekitar 2 tahun terakhir ini, terjadi sebuah pergholakan. Manajemen di perusahaan itu mengalami pengetatan, hingga semua biaya yang dirasa berlebih pun dipangkas. Bonus yang biasanya didapat oleh driver tiap 15 hari kerja pun berubah menjadi 20 hari kerja. Upah perharinya pun menurun. Para drivernya tak lagi dalam system kontrak, namun hanya perjanjian tanpa batas waktu masa kerja. Para drivernya dianggap sebagai mitra kerja, namun pada kenyataannya mereka mendapat upah harian, layaknya buruh pekerja.
Sempat terjadi demo hingga banyak driver senior yang memilih hengkang dari travel tersebut. Mereka memilih untuk mencari travel dan pekerjaan lain yang lebih bias menunjang kebutuhan hidupnya.
Saya pun berbicara dengan salah seorang drivernya. Dia seorang driver dengan pelayanan yang cukup baik. Meskipun penghasilannya kini berkurang, dengan tanggungan hidup istri dan beberapa anak, namun dia tetap mensyukuri pekerjaannya. Dan untungnya, pengetatan manajemen ini tidak seperti travel lainnya, mereka tidak kejar setoran, jadi driver ini pun merasa lega, biar dengan upah yang sudah berkurang, namun dia tak perlu memforsir kesehatannya.
Namun yang saya kaji dari sini adalah, bahwa untuk alasan apapun pengetatan manajemen yang dilakukan oleh travel tersebut, seharusnya mereka tetap bisa memperhatikan kesejahteraan karyawan dan drivernya. Memberi mereka asuransi yang baik, mengingat mereka adalah driver yang jam terbangnya kadang hingga larut malam. Apabila upah mereka mencukupi, tentunya saat mereka bekerja pun, mereka akan lebih focus, karena tidak ada pemikiran lainnya yang mengganggu saat sedang bekerja.
Jika karyawan sejahtera, maka karyawan itupun seolah akan menjadi advocates customer yang membela merek yang diyakininya. Selayaknya para pekerja yang membela perusahaan tempat dia bekerja, hingga akhirnya tak bertambah kibnerja pegawai tersebut, namun juga loyalitasnya pada perusahaan itu, dan image dari perusahaan itu pun akan lebih baik karena ditunjang oleh persepsi konsumen dari luar dan dari internalnya, oleh para karyawannya yang mengembar-gemborkan kebaikan perusahaannya. Beruntung travel yang saya bicarakan Di atas masih memiliki para pegawai yang loyal, hingga ada saja yang tetap memilih bekerja. Semoga manajemennya bisa diperbaharui mengingat para pegawainya begitu respect terhadap para atasan dan pemiliknya.

Minggu, 14 Juni 2009

Keseimbangan Penerapan Marketing Mix

Bagi para marketers, marketing mix atau bauran pemasaran adalah salah satu strategi pemasaran yang sudah sangat familiar di telinga. Marketing mix, yang terdiri dari variable 4P (Poduct, Price, Place, dan Promotion), semenjak ide awalnya oleh Neil Borden, yang lalu dikembangkan oleh E. Jerome McCarthy sekitar tahun 1960-an, yang kemudian begitu gencar digaungkan oleh Philip Kotler, kini telah bertambah menjadi 7P, yaitu 3P selanjutnya adalah Bukti Fisik (Physical Evidence), Proses (Process) dan Orang (People). Marketing mix adalah sebuah taktik dalam mengintegrasikan unsur penawaran, logistik, dan cara mempromosikan produk atau jasa Anda. Tidak hanya perlu melakukan penawaran yang menarik, Anda juga harus memikirkan taktik yang tepat dalam mendistribusikan dan mempromosikannya.
Kesesuaian 7 kombinasi tersebut dapat menunjang tiap variable hingga suatu kegiatan pemasaran dapat sukses sebegitu baiknya dan membantu adanya perkembangan pada pembangunan company, dan bukan tak mungkin meningkatkan penjualan anda.
Permasalahannya disini adalah, bagaimana kita bisa menyelaraskan ketujuh kombinasi tersebut agar tidak timpang salah satunya. Seimbang dalam penerapannya, karena jika hanya unggul dibeberapa variable saja, maka sesungguhnya marketing mix yang menjadi strategi pemasaran anda itu sendiri yang akan menggagalkan pemasaran anda.
Saya akan memberi contoh kegagalan penerapan salah satu layanan internet yang promosinya begitu gencar dengan pangsa pasar remaja hingga pebisnis muda di wilayah Bandung. Layanan internet ini memberikan penawaran yang begitu menggiurkan, dengan kecepatan konektivitas, kemudahan penggunaannya, harga yang relevan, dan banyak promosi lainnya. Intinya, layanan internet ini begitu sukses dalam promosi yang dilakukannya dengan promo dan tampilan yang inovatif dan begitu mudah menarik. Kalau dilihat secara umum, layanan internet ini berhasil melakukan general advertising dan masuk dalam mind share konsumen.
Namun, ternyata gencarnya promotion disini tak diimbangi dengan keberhasilan pada variable lainnya, seperti place dan product. Pada product, ternyata dari pihak layanan internet ini seolah tak memiliki kesiapan dalam memfasilitasi boomingnya layanan internet mereka di pasaran. Target audience yang menggunakan layanan ini ternyata melebihi prediksi, sehingga jaringan konektivitas layanan ini menjadi crowded. Penawaran layanan internet dengan kecepatan tinggi pun, mulai mengalami penurunan, akibat begitu banyaknya pengguna layanan internet tersebut. Pihak mereka bahkan ‘baru’ merencanakan akan menambah BTS, sementara konsumen sudah mulai mengeluh dan banyak yang posting di blog, yang tentunya dapat mempengaruhi brand mereka.
Pada place, yaitu saluran distribusinya, ternyata mereka pun juga mengalami kekurangan. Akibat begitu banyaknya pengguna layanan internet mereka, layanan internet ini pun tak dapat mengontrol peredaran voucher isi ulang mereka. Sehingga konsumen lagi-lagi mengeluh. Mereka menyatakan kekecewaannya dikarenakan begitu sulitnya mencari voucher internet tersebut.
Begitu banyaknya keluhan yang datang, hingga posting di blog-blog pun beredar berisi cacian, makian, hingga seruan untuk lebih baik pindah ke layanan internet lainnya. Namun tetap saja perusahaan tersebut tak bergeming. Mereka tak sigap menanggapi ini. KEPUASAN KONSUMEN BERPENGARUH PADA LOYALITAS KONSUMEN. Lovelock (1991:44) menjelaskan bahwa tingkat kesetiaan dari para konsumen terhadap suatu barang atau jasa merek tertentu tergantung pada beberapa faktor: besarnya biaya untuk berpindah ke merek barang atau jasa yang lain, adanya kesamaan mutu, kuantitas atau pelayanan dari jenis barang atau jasa pengganti, adanya risiko perubahan biaya akibat barang atau jasa pengganti dan berubahnya tingkat kepuasan yang didapat dari merek baru dibanding dengan pengalaman terhadap merek sebelumnya yang pernah dipakai.” Semakin konsumen merasa puas terhadap suatu produk, maka dia pun akan mengalami experience, hingga konsumen tersebut loyal pada produk itu dan akhirnya dia pun bisa menjadi advocates consumer, dimana konsumen tersebut sudah sampai di tahap secara sukarela dia merekomendasikan produk yang digunakannya itu. Dan tentunya ini bisa menjadi impact dari word of mouth dan pemasaran yang gratis. Sesuai dengan posting saya terdahulu, marketer masa kini tak lagi hanya menekankan pada inovasi produk dengan biaya berlebih. Low-budget high-impact!
Maka sebaiknya mari kita benar-benar memahami kombinasi dari marketing mix tersebut. Jangan hanya mengetahuinya lalu seenaknya menerapkan. Tapi harus ada keseimbangan dalam penerapan marketing mix tersebut. Karena sebuah strategi bisa menjadi senjata untuk kita apabila kita salah dalam penerapannya.

Sabtu, 06 Juni 2009

The Horizontal Era

Sekarang adalah era horizontalisasi dalam budaya marketing. Dari one-to-many, menjadi many-to-many. Dari vertical, menjadi horizontal.
Horizontalisasi disini merupakan dampak dari perkembangan sistem informasi kita. Komunikasi yang kini tak berbatas dengan begitu banyaknya fasilitas yang melimpah, hingga membuat marketing merambah dunia online dan offline. Tak hanya dunia maya, namun juga dalam kenyataan. Marketing menjadi lebih luas dan marketers ditantang untuk menjadi lebih kreatif.
Kita tak bisa lagi memandang konsumen hanya sebagai target marketing. Konsumen di era horizontal ini adalah partner / rekan dalam menjalankan proses marketing itu sendiri. Konsumen era ini adalah konsumen yang lebih cerdas. Mereka adalah konsumen horizontal yang aktif mencari info tentang needs dan wants mereka masing-masing.Meleburnya perbedaan antara marketer dan konsumen. Semuanya membaur dan menjadi horizontal.
World becomes crowd. Word of mouth yang begitu kuat dan merajalela, kemudian dengan internet yang kini berkembang menjadi era WEB 2.0, memfasilitasi publik yang kini berkomunitas, membentuk crowd, seperti yang dikaji dalam buku Crowd oleh Yuswohady.
Tak hanya itu, marketer masa kini tak lagi hanya bisa fokus pada kreativitas dengan budget yang berlimpah. Di era horizontal ini, berlaku hukum low-budget high-impact (Hermawan Kartajaya - New Wave Marketing). Kini yang dipentingkan adalah bagaimana caranya agar tetap kreatif dalam merebut mind share konsumen dengan budget yang rasional.
Saatnya para marketer ‘melek’ dengan fenomena marketing yang bergejolak semakin kuat, mengikuti arus perkembangan jaman. Regenerasi dalam dunia marketing yang semakin pesat, menuntut kita semua untuk lebih jeli dalam menangkap setiap opportunity yang kita miliki. Don’t wait the opportunity, MAKE IT!

Selasa, 02 Juni 2009

DIRECT RESPONSE MELALUI TELEVISI DAN RADIO

DIRECT RESPONSE MELALUI TELEVISI DAN RADIO
►Infomercial: Iklan yang Dikemas Mirip Acara Show
Informercial (information commercial) / iklan yang menyuguhkan informasi tentang suatu produk atau jasa. Tayangan berdurasi sekitar setengah jam itu prinsipnya adalah iklan yang dikemas dengan format dan gaya tayangan show di televisi.
Lima unsur terpenting infomercial:
1. Produk menarik perhatian massa
2. Produk memiliki rasio markup 5 atau 6 banding 1
3. Produk harus mudah diperagakan / didemonstrasikan
4. Produk mampu menciptakan transformasi yang ajaib
5. Produk harus unik dan langka
Kegagalan yang harus dihindari:
1. Jangan asal-asalan merancang satu program informasi pemirsa, lalu menyisipkan dua atau tiga iklan didalamnya
2. Selebriti yang menjadi host anda belum tentu menjamin keberhasilan program anda
3. Jangan terlalu banyak unsur hiburan
4. Jangan terlalu banyak membuang dana
Tips menayangkan program infomercial:
1. Saat tengah malam (hari Sabtu dan Minggu siang)
2. Di jejaring TV kabel
3. Di stasiun-stasiun afiliasi
4. Di stasiun-stasiun TV independen
5. Pada musim orang berbelanja
6. Program ditayangkan beberapa kali saja ketika orang sedang tidak berbelanja dan jarang di rumah

►Iklan TV Format Pendek
Program Direct Response Television (DRTV), berjalan selama 30 menit, sedang iklan TV Direct Response biasanya berlangsung 1-2 menit. Jim Daniel mengatakan, “Program DRTV dirancang untuk mengiring respons spesifik secara langsung pada pemirsa TV”. Penayangannya nyaris tak pernah muncul pada jam prime time, dikarenakan pada jam-jam tersebut pemirsa kurang memperhatikan tayangan iklan.
Rekomendasi penayangan iklan DRTV:
1. Tayangkan pada sela-sela program yang kurang menarik, agar mendapat respon
2. Tayangkan siang hari (lebih efektif daripada malam hari)
3. Uji coba spot infomercial di pasar skala kecil bisa menjadi prediktor yang cukup tentang hasil potensial program yang lebih ekstensif
4. Ulang tayangan spot untuk penerima terbatas (lebih baik daripada mengurangi tayangan spot iklan yang memiliki penerima besar
5. Gunakan title untuk menunjukkan nomor telepon bebas pulsa dan menegaskan selling point produk Anda
6. Ulangi terus penayangan nomor telepon
7. Gunakan tawaran dengan kata-kata yang kuat, jelas, sederhana
Tips tambahan dari Dean Rieck:
1. Tawarkan produk yang unik
Produk retail dan eceran sejauh ini merajai pasar karena mudah didapat, karena itu jika menjual di televisi, jual produk yang istimewa.
2. Dramatisirlah manfaat dan hasil produk Anda
Orang hanya mempercayai apa yang mereka lihat sendiri, maka dramatisirlah fitur dan manfaat produk Anda
3. Sodorkan solusi masalah
4. Berikan tawaran yang unik (USP-Unique Selling Proposition)
Tawaran unik menjadikan produk Anda beda dari yang lain
5. Berikan janji yang powerful
Ajukan klaim kehebatan produk dengan jelas dan langsung
6. Ciptakanlah perceiver value yang tinggi
7. Tingkatkan nilai produk Anda dengan menawarkan hadiah ekstra
Contoh: Menjadi nasabah bank, Anda bisa mendapatkan Blackberry Bold
Televisi digunakan untuk memasarkan produk secara langsung pada pelanggan melalui tiga cara. Pertama melalui iklan tanggapan langsung. Pemasar tanggapan langsung mengudarakan spot televisi, sering selama 60 atau 120 detik, yang secara persuasif menggambarkan suatu produk dan memberikan pelanggan nomor telepon bebas pulsa untuk memesan. Salah satu contoh iklan terbaik Dial Media untuk pisau Ginsu, yang diputar selama 7 tahun dan menjual hampir 3 juta perset pisau dengan nilai penjualan lebih dari $40 juta. Belakangan ini, beberapa perusahaan telah mempersiapkan info komersial 30 dan 60 menit, yang mirip dengan film dokumenter (tentang berhenti merokok, menyembuhkan kebotakan, atau menurunkan berat badan), memuat kesaksian dari pemakai barang atau jasa yang puas, dan mencantumkan nomor telepon bebas pulsa untuk memesan atau memperoleh informasi lebih lanjut.
Pendekatan pemasaran televisi kedua adalah saluran belanja dirumah, yang merupakan saluran televisi yang bertujuan untuk menjual barang dan jasa. Yang terbesar adalah Home Shoping Network (HSN), yang mengudara 24 jam sehari. Pemandu acara menawarkan harga obral atas produk-produk mulai dari perhiasan, lampu, boneka koleksi, dan pakaian juga alat-alat listrik dan peralatan elektronik-biasanya diperoleh HSN dengan harga obral. Pemirsa dapat menelepon nomor bebas pulsa untuk memesan barang. Pesanan dikirimkan dalam 48 jam. Saluran nomor dua yang lebih bergengsi, QVC, juga melakukan penjualan 24 jam sehari. Pada tahun 1993, lebih dari 22 juta orang dewasa menonton acara belanja dari rumah, dan hampir 13 juta membeli barang dari acara belanja dirumah.
Pendekatan ketiga adalah videoteks, yaitu televisi konsumen dihubungkan dengan bank data komputer penjual melalui kabel atau jalur telepon. Layanan videoteks terdiri dari katalog produk yang terkomputerisasi yang ditawarkan oleh produsen, pengecer, bank, perusahaan perjalanan wisata, dan lain-lain. Konsumen mengajukan pesanan melalui keyboard khusus yang dihubungkan ke sistem tersebut melalui kabel dua arah. Banyak riset kini sedang dilakukan untuk menyempurnakan TV interaktif sebagai langkah selanjutnya setelah videoteks.
Majalah, koran, dan radio juga dapat digunakan dalam saluran penjualan dengan tanggapan langsung. Orang mendengar atau membaca tentang penawaran dan menelepon nomor telepon bebas pulsa untuk memesan.
►Iklan Direct Response dengan Siaran Radio
Radio merupakan alat paling praktis untuk menyampaikan pesan sponsor kepada massa. Memiliki 2 kelebihan utama: biaya pemasangan iklan yang relatif murah dan selektivitasnya.
• Menjangkau Pasar yang Tepat Melalui Siaran Radio
Untuk menyaingi televisi, stasiun radio-radio swasta meramu berbagai program khusus yang dirancang untuk menjangkau penerima tertentu. Masing-masing stasiun radio itu memiliki segmen pasar tersendiri, dan segmen itulah yang mereka jual kepada para pengiklan. Studi yang dilakukan lembaga survey Robert. E. Balon and Associates mengungkapkan bahswa suasana hati atau mood pendengar sangat menentukan stasiun radio yang dipilihnya.
• Membeli Radio Time
Beberapa tips praktis memasang iklan di radio:
1. Pastikan memilih stasiun radio yang tepat
2. Cari stasiun radio yang disukai pangsa pasar Anda
3. Untuk mengetahui apakah stasiun radio setempat melayani pangsa pasar Anda, hubungilah bagian pemasaran mereka dan jelaskan produk atau jasa apa yang ditawarkan, dan kelompok mana yang menjadi prospek Anda.
4. Jika stasiun itu merupakan wahana yang cocok untuk iklan produk Anda, mintalah mereka mengirimkan media kit. Biasanya berisi item seperti berikut:
a. Peta jangkauan siaran mereka
b. Hasil riset pasar yang menunjukkan keunggulan stasiun tersebut
c. Deskripsi tentang penyiar mereka serta acara yang mereka pandu
d. Daftar perusahaan setempat yang memasang iklan di radio tersebut
e. Sebuah rate card atau daftar harga pemasangan iklan di sana (Tarif bervariasi tergantung jam penyiaran, karena jumlah pendengar radio juga bervariasi tergantung waktunya)
DRIVE TIME
06.00 – 10.00
15.00 – 18.00





Sumber:
Bly, Robert W. 2006. The Complete Ideal’s Guides: Direct Marketing. Jakarta: Prenada Media Group

Selasa, 26 Mei 2009

mars is "the new venus"?

Kalo kita ngeliat mayoritas cowo jaman skarang, kayaknya mereka bisa lebih memperhatikan penampilan. Ada yg suka kluar masuk salon, luluran, manicure-pedicure, cat rambut super ngejreng, doyan eksperimen style mereka, pokoknya update bgt soal gaya.
Yaa, ini yg biasanya dibilang cowo metroseksual. Bukan pemandangan yang baru, sih, dan saya juga gak bilang ada yang salah dengan perilaku mereka. Setiap orang bebas mengekspresikan diri. Perkembangan yang bagus kalo cowok juga nggak kalah perhatian soal penampilan. Makin bisa berekspresi, semakin mereka bisa jujur terhadap konsep diri mereka. Cuma kadang masi takjub aja ngeliat mereka bisa lebih merawat diri dan memperhatikan diri lebih dari cewe, yg notabenenya kaum venus yg wajar bgt kalo mau centil2an. Haa no offense. Tiap org punya hak buat mengekspresikan diri, entah itu cowo ato cewe, dan dg cara apapun. Walaupun kadang ada aja cowo metroseksual yg malah dipandang gay gara2 style dia. Ini sih konsekuensinya. Tapi gay sendiri pun punya hak buat berkspresi, mereka juga sama-sama manusia.
Tapi bukan itu yang mau saya bahas disini. Disini saya ga mau ngeributin gender. Merujuk pada john gray yg bilang pria berasal dari mars&wanita dari venus, saya cuma mempertanyakan, ada apa dg mahluk mars di era skarang ini? Fenomena di dunia marketing skarang nunjukin kalo pria jaman skarang cenderung lebih emosional ketimbang cewe. Dan memang kenyataannya saya justru melihat cewe jaman skarang cenderung lebih superior ketimbang cowo. Dg kata lain, is it true that mars is the new venus?
Well, disini mereka kita sebut 'the new venus', karena memang yg brubah mjd 'sosok venus' bukan hanya tampak luar, tapi juga bagian dalamnya. Pria sekarang bisa lebih sensitif dan emosional dari cewe,dan cewe justru sebaliknya. Pria bisa lebih kritis tentang penampilan, pelayanan, atau bahkan hal2 detail yg biasanya diperhatikan kaum venus. Kalau dalam dunia marketing, ini adalah babak baru. Strategi baru.
Kalau dulu yang menjadi pangsa pasar incaran pemasar adalah wanita yang notabenenya venus, sekarang, bahkan pria pun bisa menjadi pangsa pasar yang menjanjikan. Mereka bisa lebih concern tentang suatu produk dan impactnya terhadap mereka. Mereka bisa meributkan apakah suatu produk itu memiliki aspek reliability ataukah hanya menambah liability, yang cenderung kurang menguntungkan bagi konsumen di masa krisis ekonomi saat ini (Rich Dad, Poor Dad, red).
Hermawan kartajaya bahkan merumuskan ini di bukunya marketing in venus, yg terbit beberapa tahun lalu. Melihat fenomena ini, strategi marketing yg ada tentunya lebih variatif dg amunisi baru dan model baru. Berbagai cara utk menarik 'the new venus' ini. Pemasar tidak bisa memandang sebelah mata konsumen pria mereka.
Tapi saya jadi mempertanyakan kembali, sebenarnya, yg membuat pria menjadi 'the new venus' itu, karena daya tarik dan kecanggihan strategi para pemasar dan media yg sedari dulu slalu menggembar gemborkan wanita utk mempercantik diri dan memperhatikan penampilan, atau memang ini siklus yg wajar terjadi? Kayak mode yg muter terus, balik ke jaman dulu. Apa skarang emang jamannya aja cowok lebih mengarah ke cewe dan cewe lebih mengarah ke cowo? Jadinya kalo ada cewe yg 'perkasa' dan suka nuntut hak mereka atau berkoar soal emansipasi wanita itu emang uda siklusnya aja? Haa omongannya saya jadi ngelantur. Tapi memang sebuah fenomena akan berpengaruh pada fenomena lainnya. Semua kejadian bakal selalu berkaitan. Intinya sih, sbenernya dunia yg ngebentuk kita, atau kita yg membentuk dunia?

Daftar Blog Saya

Mengenai Saya

Foto saya
I am a product of imagination who dwells in a faraway castle. This blog is not related to my profession in real life but meant to be a tool for me as a human to share my thoughts and notions. This blog was initially started as a project in my college time because I took marketing communication as my concentration but it appears that I need a vessel of my imagination so here we are ! PS: pardon my language or thoughts if you feel it's quite offensive :)

Pengikut

Arsip Blog