Senin, 07 Desember 2009

things you call fate

this is my fate..
this is your fate..
this is our fate..
fate fate fate
many people talk about fate,like they already knew about their own fate.
but what is fate,anyway?

"kalo jodoh,nggak kemana"
saya sering denger tentang kalimat ini.bahkan saya sendiri sering mengucapkannya.ini kalimat yang cukup ampuh bikin orangjadi lebih tenang dan pasrah.tapi kadang tetep aja kocak kalo mikirin kata2 ini.kalo jodoh,emang nggak kemana.masalahnya darimana kita tahu itu jodoh kita.

"emang udah takdirnya kali,ya"
ini biasanya dilontarin sama orang yang uda super pasrah.baik yang udah berusaha semaksimal mungkin,atau yang udah nggak tahu mau ngelakuin apa lagi buat wujudin apa yang dia mau atau bahkan justru yg 'menurut dia sendiri' bahwa dia sudah berusaha semaksimalnya.enteng kita bilang memang sudah takdirnya.padahal kalo dipikir-pikir,darimana kita tahu kalo itu bener2 takdir kita?

and so on..

tapi bukan berarti kita bisa menyalahkan segala sesuatunya pada takdir kan?kalo kata agama saya,takdir memang ada dua.yang bisa diubah dan yang sudah tertulis.takdir yang bisa diubah itu adalah takdir yang bisa berubah jika kita mau berusaha mengubahnya.sementara yang sudah tertulis adalah kebalikannya.takdir yang meskipun kita jungkir balik berusaha untuk mengubahnya.namun tetap saja tidak berubah.kematian misalnya.

kita semua pasti mati.nggak tahu ya kalau yang ikut aliran sesat dan susah mati.intinya sih mereka juga mati nantinya.saya takut mati.tapi saya mau mati.kematian membuat saya menghargai kehidupan saya.menghargai waktu yang terlewat.menghargai setiap kejadian,kenangan,dan cerita dalam kehidupan saya.kita mahluk hidup terlalu mendambakan kehidupan hingga kita lupa memuja kematian.kita lupa bahwa karena adanya kematian lah kita jadi mendambakan kehidupan.kematian membuat kita menghargai kehidupan dengan keterbatasannya akan waktu.singkatnya,kematian membuat kita menghargai setiap waktu yang kita lewati.

kematian itu pasti.itu takdir kita yang sudah tertulis dan tidak bisa kita ubah.yang bisa kita lakukan hanyalah 'maukah kita memberi kematian kita arti'.berhubung sekarang lagi musimnya bunuh diri,membuat saya jadi sedikit merenung.kenapa ya orang2 itu menghentikan hidupnya dan memaksa kematian secepatnya mendatangi mereka.apa mereka sudah yakin kematian mereka akan berarti?

semua yang terjadi adalah rahasia Tuhan.termasuk takdir.terlepas dari takdir itu ada yang bisa diubah ataupun tidak,yang bisa kita lakukan kan hanya berusaha dan berdoa.dan membiarkan setiap kesempatan dalam hidup lewat,hanya akan membuat kematian kita tidak akan berarti nantinya.jadi ya terus saja berlari,mengejar segalanya.garis 'finish' kan pasti ada.tapi kita yang menentukan bagaimana cara kita mencapai garis finish itu.


so don't say it's over if it's not.

Rabu, 04 November 2009

renungan mahluk pelupa

Manusia lahir ke bumi yang hijau dan membaui keasriannya, dengan memperkenalkan dirinya sebagai mahluk pelupa. Ya, manusia adalah mahluk Tuhan yang ditakdirkan untuk lupa, dan mereka kemudian lupa ditakdirkan sebagai manusia, dengan segala keterbatasannya.
Sedari manusia lahir, hingga kemudian dia tumbuh dan melihat dengan mata kepalanya sendiri akan bumi tempatnya berpijak, manusia tak pernah benar-benar ingat. Dia selalu lupa. Melupakan satu-persatu detail dalam kehidupannya yang terlewatkan. Sometimes they forget the scene in their life that they have to remember.
Dan dari sinilah kita mulai berhenti dan merenung. Setiap rangkaian yang terlewatkan dalam hidup kita. Setiap bagian dari drama hidup kita yang terlupakan. Setiap adegan yang dapat mengingatkan kita akan takdir kita sebagai manusia.
Ada seorang ibu yang menanti kepulangan anaknya bekerja, hingga jauh malam. Begitu mengantuk, namun bersemangat menunggu setiap jam berlalu dan yakin anaknya akan pulang dengan segera. Menanti di depan pintu menunggu anaknya yang akan pulang dengan wajah kuyu kelelahan dan kembali segar saat disambut ibunya. Namun si anak malah lupa dengan sang ibu. Si anak pergi dengan teman kantornya dan menikmati dunia malam hingga pagi menjelang.
Seorang Ayah yang begitu menyayangi anak dan keluarganya, hingga dia tak mau tahu darimana asalnya, yang penting mereka dapat merasakan hidup bahagia dengan fasilitas mewah dan segala hal indah dalam bayangannya. Si Ayah pun gelap mata dan melakukan berbagai macam cara untuk membahagiakan anaknya, termasuk melakukan berbagai tindak tak terpuji dan menggelapkan uang perusahaan. Si Ayah lupa, bukan kebahagiaan semu yang diharapkan orang-orang yang disayanginya.
Lalu kita lihat seorang istri yang cantik jelita dan hidup berkecukupan karena suaminya yang begitu sederhana, namun pekerja keras yang ulet. Suaminya yang sederhana itu bekerja keras demi memberikan kehidupan layak bagi istri dan calon anak-anak mereka. Namun si istri lupa dengan perjuangan suaminya, dan berselingkuh dengan alasan membutuhkan perhatian lebih. Dia bosan sendirian diacuhkan suaminya karena alasan kesibukan di kantor. Lupa bahwa semua yang dilakukan suaminya hanya demi kebahagiaan mereka sekeluarga nantinya.
Ada kakak beradik yang senang berbeda pendapat dan seringkali mereka harus bertengkar pelik demi mempertahankan semua kebijakan akan keluarganya. Hingga terkadang mereka saling membenci satu sama lain dan tak mengindahkan semua nasihat dari orang sekitar akan hubungan persaudaraan mereka. Mereka lupa bahwa saat mereka tak punya orangtua, hanya saudara kandung merekalah yang akan ada untuk mereka. Bahwa apapun yang terjadi, keluarga adalah satu dan bukan untuk memecah belah apa yang dilindungi kedua orangtuanya semasa hidup. Bahwa apapun yang mereka lakukan, walau berbeda persepsi, sesungguhnya adalah demi kebahagiaan keluarga yang mereka sayangi.
Ada seorang wanita yang begitu tergila-gila mengejar karier dan semua impiannya. Dia bahkan menghabiskan dan menggunakan waktu yang ada dalam umurnya hanya untuk mengejar semua impiannya. Hingga akhirnya dia melupakan kodratnya sebagai seorang wanita, untuk menikah dan memiliki anak hingga membesarkannya. Si wanita kini telah kehilangan orang yang dicintainya dan dijauhi keluarganya akibat keegoisannya selama ini. Sendirian dan terlupakan oleh orang disekitarnya.
Ada seorang pria yang berjalan dengan acuh tak acuh saat melewati seorang kakek pengemis yang begitu kelaparan dan memohon pertolongan si pria itu. Si kakek merintih sakit di jalanan yang panas dan udara yang membakar dahaga. Namun si pria terus saja melewatinya tanpa peduli. Melupakan bahwa apa yang dialami si kakek bisa saja menimpa Ayah yang dicintai si pria atau bahkan menimpa di pria itu di kala dia tua renta dan hidup tanpa perlindungan dan jaminan sedikit pun.
Ada seorang kekasih yang merintih penuh penyesalan mengetahui kekasihnya meninggal di perjalanan pulang ke rumah. Kini orang tersebut hanya bisa menyesali keangkuhannya selama kekasihnya masih hidup. Dia begitu angkuh dan percaya diri akan semua kebaikan, pengertian, dan cinta yang diberikan kekasihnya. Hingga dia tidak pernah sekalipun menunjukkan balasan akan segala kasih sayang yang ditunjukkan kekasihnya itu. Dia begitu meyakini bahwa kekasihnya memahami perasaan cintanya tanpa harus diungkapkan lagi. Hingga kemudian saat kekasihnya meninggal, dia pun mengetahui betapa merananya kekasihnya karena tidak mengetahui sedalam apa cinta orang tersebut. Dia tahu orang itu mencintainya, namun dia ingin tahu sedalam apa cintanya. Bahwa cinta memang dirasakan, namun tak semua orang cukup hanya dengan merasakan. Terkadang mereka butuh bukti sebagai penghargaan atas kepercayaan dan kesabaran mereka selama ini.
Dan masih banyak kisah para mahluk pelupa. Manusia-manusia yang semakin lama semakin pintar namun tidak berarti semakin bijak. Manusia yang handal dengan berbagai teorinya namun tidak mampu mengakui bahwa tidak semua teorinya telah mereka praktikkan. Manusia yang lupa bahwa dia tidak besar karena dirinya, melainkan karena orang lain membesarkannya.
Lupa, terkadang merupakan suatu hal bijak, jika itu dapat membuat kita melupakan hal-hal menyakitkan dalam hidup kita. Namun, begitu kita melupakan hal-hal menyakitkan itu, maka kita pun melupakan bagian diri kita yang mampu bertahan melewati hal-hal menyakitkan itu dengan luar biasanya.
Lupa, membuat kita lupa bahwa manusia layaknya sweater yang dirajut dengan penuh kesabaran. Perlahan dengan ketekunan kita dirajut hingga akhirnya menjadi sebuah sweater hangat yang mampu melindungi kita dari dinginnya udara. Namun apabila kita lupa, maka sweater itu terlihat bolong di berbagai tempat dan takkan pernah menjadi sweater yang sehangat yang kita butuhkan. Hanya sebuah sweater yang penuh dengan bolong kecil dan tetap dingin saat digunakan. Namun bukan manusia namanya jika kemudian setelah membaca ini, dia melupakan semua renungannya. Karena kita memang ditakdirkan menjadi mahluk-mahluk pelupa.

A Theory

If there’s a theory about love, then love wouldn’t be as emotional as we know.
Love is something random, unexplainable, and unpredictable.
Love is God’s will.
The secret of love is love itself.
Jadi bukan salah Nara nggak bisa mengerti Diska sepenuhnya.
Begitu pula sebaliknya.
Kenapa?
Karena keduanya memaksa untuk memahami satu sama lain, hingga mereka lupa untuk memahami cinta itu sendiri.
Memahami bahwa cinta itu menyatukan perbedaan.

“Kalau aku pake baju ini bagus, nggak?”, tanya Diska.
“Kamu pake baju apapun juga bagus, sih”
Cowok bukan mahluk yang detail dan malas meributkan hal kecil. Namun cewek melihat itu sebagai bukti betapa besarnya perhatian si cowok hingga ke masalah penampilan si cewek. Hingga akhirnya mereka lupa, poin sesungguhnya yang harus mereka ambil adalah ketika si cowok tetap berusaha membahagiakan ceweknya dengan berusaha bersikap peduli.

“Aku udah nggak tahan lagi sama sikap kamu. Kita putus”, omel Diska.
“Kalau menurut kamu itu yang terbaik”, jawab Nara.
Terkadang cewek mudah mengucapkan putus bukan berarti karena mereka benar-benar ingin putus, namun justru karena mereka ingin melihat si cowok mempertahankannya.

“Kamu terlalu cuek, nggak peduli sama hubungan kita”, keluh Diska.
“Kamu yang terlalu berlebihan, selalu minta diperhatiin”, balas Nara.
Andai saja mereka mengakui, bahwa keduanya benar. Terlalu cuek atau terlalu perhatian sama-sama akan mengganggu hubungan mereka.

Selalu saja ada pertentangan diantara keduanya. Yang lucunya, semakin bertentangan, semakin mereka saling tarik-menarik. Sekali lagi, ini bukan teori tentang cinta. Karena cinta itu sesuatu yang acak, tak memiliki suatu pola. Tak punya dosis tepat, dan tak ada panduan penggunaannya.
Setiap kisah memiliki gaya mereka sendiri dalam menuturkannya, merangkainya hingga sepadan melengkapi bagian cerita dalam hidup.
Suatu fenomena klasik, dimana ada saja seorang individu yang terus mengeluhkan akan hubungannya atau pasangannya yang pada kenyataannya, mereka tetap menjalaninya, seberat apapun itu.
Atau bahkan ada individu yang mengaku mati bosan, namun tak bisa melepaskan orang itu dari hidupnya.
Kalau kata ilmu pengetahuan, it’s unexplainable.
Kata agama, it’s destiny.
Kata saya, it’s curse.
Kata orang-orang, it’s love.
Jadi di kala salah satu dari kita ada di sebuah persimpangan dan bingung menentukan apa kita harus bertahan atau menyerah, you should go back to the basic question.

Bisakah kamu tanpanya?

*dedicated to people who tends to forget to forgive

Rabu, 16 September 2009

ajang ekspektasi

Dimas menatap lurus sosok kontradiktif dan kompleks Naya. Sebuah sosok tegas yang justru lebih tegas pada dirinya sendiri, ketimbang orang lain. Sosok angkuh yang pasang harga selangit justru pada dirinya sendiri. Sosok tajam yang lebih setia menghunuskan pedangnya, sekali lagi, justru pada dirinya sendiri.
Sosok yang bermusuhan dengan dirinya ini pun kini terlihat sedang menyelesaikan perangnya. Perang imajinasi yang takkan pernah bisa Dimas pahami. Perang yang lahir dari dunia dan pribadi sosok Naya, sosok kontradiktif yang melahirkan kontradiksi kompleks dalam diri Dimas.
Dan kini Dimas geram. Dia tak ingin lagi ada di luar perang itu. Dia ingin ada di dalamnya. Dia ingin menjadi musuh Naya. Sebuah sosok kuat yang selalu berseberangan sekaligus bersisian dengannya. Sosok yang dapat menentang dan memahami Naya di waktu yang bersamaan. Sosok yang menjadikannya ada dan tiada. Sosok yang menjadi alasan adanya Naya.
Dimas ingin menerobos benteng yang dibangun Naya. Terlalu lama dia berdiam diri membiarkan Naya membangun tembok kokoh itu. Ini waktunya dia meminta haknya. Dia jengah melakukan kewajibannya, membiarkan Naya membangun satu persatu balok batu komponen benteng dingin itu. Terlalu lama putri angkuh itu duduk di singgasananya. Dan detik ini, Dimas akan membawanya. Menyeret sosok kompleks itu, agar mau memandang sosok yang semakin sesak atas deraan angin dingin dari benteng itu.
Dimas menghela sejenak. Dia berusaha mengulum emosinya. Dia tahu benar, dia tak dapat menerobos benteng itu dengan mendobrak gerbangnya, sementara telah terlalu lama dia mengetuk gerbang benteng itu. Dan kali ini dia akan berteriak. Memaksa Naya untuk turun dari singgasananya dan melihat sejelas mungkin sosok yang ingin masuk itu. Sosok yang merasa berhak untuk masuk, namun kini jengah akan lamanya pintu benteng itu terbuka.
“Lihat aku, Naya Andhini”
Setitik ragu melintas di kedipan sekilas matanya. Namun dengan tegas dan tajam, Naya menolehkan pandangannya. Pandangan lurus itu terlihat sedikit goyah oleh sorot lembut Dimas.
“Aku selalu melihat kamu, Dimas”
Senyum tipis yang sinis mampir di wajah konyol Dimas. Wajah yang selalu berhasil menghibur Naya yang gamang.
“Kamu cuma ngelihat sosok yang pengen kamu lihat”
“Aku ngelihat apa adanya kamu, Mas”
“Termasuk perasaan aku?”
Hening.
Tarikan nafas Naya tertahan.
Sekali lagi Dimas membungkam emosinya.
“Apa kamu juga ngelihat aku, Dimas?”
“Selalu dan seutuhnya”
“Termasuk perasaan aku?”
Sekali lagi senyum sinis menghias wajah Dimas.
“Memangnya kamu punya?”
“So, you’ve got the point”
“In which side, Naya? It’s all yours”
Naya menghela nafasnya. Dia terlalu lelah dan jengah. Bukan oleh Dimas, namun lebih pada perang yang kini kembali mengisi kepalanya. Semakin teriakan hati Dimas menjerit, semakin gemanya mengguncang keseimbangan Naya.
Dimas bukan musuhnya.
Dan takkan mungkin menjadi.
Dan dia takkan pernah membiarkan itu terjadi.
“Aku mau kamu jadi milikku, Nay”
“Ini bukan masalah kepemilikan, Dimas”
“Lalu apa?”
“Kita berseberangan”
“Cinta bisa membuat kita bersisian”
Naya tertawa miris.
Dimas menggeram, bingung akan gelak tawa Naya.
Keduanya tenggelam dalam keburaman.
“Kamu baru menunjukkan kita berseberangan”, ujar Naya, akhirnya.
Dimas membisu. Namun wajahnya terlihat bawel dan sesak akan pertanyaan. Lagi-lagi dia terjebak sosok kompleks Naya. Senyum Naya terukir lembut. Kini sorot tajam itu telah pergi. Ada kesepahaman dalam hatinya. Perang itu kini usai.
“Aku perlu tahu perasaanmu, Naya. Kalau itu memang ada”
Hening.
Dalam, Naya menatap sosok akrab dan selalu istimewa di matanya itu. Sosok yang ingin dibiarkannya bebas dan tak terbeban oleh keburaman akan dirinya dan penasarannya.
“Perasaanku nggak penting”
Naya menundukkan kepalanya. Di depannya, ada sosok yang paling ingin dipertahankannya, sekaligus dibebaskannya. Dan sosok itu, mengenali kegamangan yang dilukiskan Naya. Tangan itu pun terulur ke arah Naya, seolah tak memperdulikan jawaban Naya barusan. Menguapkan semua keraguan Naya. Tangan itu hanya butuh sambutan dari Naya, bukan jawaban buram yang kompleks dari sosok kontradiktif.
“Mencinta adalah membiarkannya bahagia”
Naya mengangkat kepalanya. Menatap lurus Dimas.
“Membiarkanmu bahagia”
Dimas mengepalkan tangannya. Menarik uluran itu.
“Kalau kebahagiaanku bersama kamu?”
“Dari mana kamu tahu kebahagiaanmu bersama aku?”
“Dari mana kita tahu kalau kita belum pernah nyoba?”
Naya menggigit bibirnya.
“Perasaan bukan ajang percobaan”, jawabnya geram dan mantab.
“Tapi kita nggak akan pernah tahu tanpa mencoba”
“Dan setelah kita tahu?”
Dimas terdiam. Dia meremas jemarinya. Kembali, Naya seolah menbanting pintu dengan keras, tepat di depan mukanya.
“Yang aku tahu, aku bisa sama kamu, Nay”
“Yang aku tahu, gimana setelah kamu sama aku”
“Hubungan bukan ajang prediksi”
“Tapi ajang ekspektasi”
Hening. Hanya dua sorot yang bergejolak. Dua perasaan yang memberontak. Dua persepsi yang bertabrakan. Dua insan yang memperjuangkan keyakinannya.
“Dan ekspektasiku adalah membiarkanmu bahagia, dari sudut pandang aku, Dimas”

orang-orang bijak

Orang bijak bilang, berpikir sebelum bertindak.
Jadinya, semuanya yang kita lakukan itu, terencana dengan baik. Jauh dari namanya kegagalan.
Tapi kata orang bijak juga, kegagalan itu kesuksesan yang tertunda.
Nah, lho. Bingung.
Lagi-lagi orang bijak bilang, kesuksesan itu 99% latihan.
Latihan itu kan masalah praktek. Learning by doing. Jadinya, kita perlu mikir nggak, sih?
Ok, coba tanya lagi orang bijak.

-Hmm..kenapa nanya sama orang bijak?
*Karena dia kayaknya pinter.
-Emangnya kalo’ pinter selalu punya jawaban? Selalu tahu apa yang mesti dilakuin, selalu jago ambil keputusan?
*Namanya juga orang pinter. Doyan mikir. Jadinya selalu mikir sebelum bertindak. Jadinya tindakannya selalu bener.
-Jadinya kebanyakan mikir.
*Bukannya itu bagus?
-Tanya aja sama yang itu, tuh.
*Yang mana?
-Yang duduk di bangku deket pohon itu.
*Emangnya dia pinter?
-Professor, maaan.
*Wuih, keren. Tapi ngapain dia sendirian di sana?
-Karena dia pinter.
*Lah, kok?
-Jadinya kebanyakan mikir, lelet bertindak. Alamat sendirian terus hingga ke liang lahat, deh. Hahaha
*Emangnya dia kenapa?
-Ah, masalah klise. Orang pinter yang kelakuannya bego.
*Oh ya?
-Yoi. Kelamaan nunggu waktu yang tepat buat nembak cewek. Dikiranya dia udah kompeten buat itu cewek. Nggak tahunya, waktu balik abis ngambil S3 dari Harvard, ternyata itu cewek udah nikah sama sahabat itu professor yang kerjaannya maen mulu dan S1nya nggak selesai, tapi sukses jadi businessman.
*Kenapa dulu nggak ngungkapin dulu sebelum ke Harvard?
-Ya itu. Kebanyakan mikir.
*Wah, bener tuh. Kalo kata film, cinta bisa datang, bisa pergi, tapi nggak bisa nunggu.
-Aaahh, kata siapa.
*Hah?
-Cinta bisa nunggu, kok. Yang jadi masalah itu…
*Apa?
-Cinta butuh kepastian.
*Ets, gimana tuh?
-Coba aja si professor ngungkapin dulu, pacaran, tunangan, janji balik lagi. Sampe botak juga ditungguin, kali. Itu cewek kan aslinya naksir duluan sama itu professor dari dulu banget.
*Yah, bego banget itu professor. Kenapa itu cewek nggak ngungkapin duluan?
-Gimana mau ngungkapin? Mana dia tahu perasaannya si professor
*Makanya, biar tahu, mesti diungkapin dulu.
-Hahaha
*Loh, kok ketawa?
-Manusia itu bego, ya.
*Kenapa?
-Kadang kita suka sombong, ngerasa udah berkorban banget, udah usaha banget. Padahal, ya kalo nggak ada yang tahu usaha kita ya percuma aja. Gimana mau tahu perasaan kita, kalo nggak kita ungkapin? Nggak cukup cuma ngungkapin buat nunjukin, tapi juga nunjukin buat ngungkapin. Coba dulu si professor bilang ke itu cewek kalo dia mau jadi orang sukses biar pantes buat itu cewek, atau si cewek bilang ke professor dia udah lama nyimpen rasa ke professor, sampe mati-matian jadi sahabat paling baik.
*Wah, bener banget tuh
-Yoi, kan?
*Yoi, ntar gue mau nembak gebetan gue, aah
-Sok bener, lo. Emangnya udah pasti diterima?
*Hahaha
-Loh, kok jadi elo yang ketawa?
*Even the smartest person can not always make the smart decision. Kita nggak akan tahu keputusan ini tepat ato nggak, kalo nggak dicoba dulu.
-Learning by doing, nih yee
*Bukan, man. Back to basic aja.
-Hah? Apaan lagi, tuh?
*Hukum alam, siapa cepat dia dapet. Hahahaha

Senin, 15 Juni 2009

MARKETING IN A COMPANY

Divisi marketing atau pemasaran adalah bagian yang selalu ada dalam setiap perusahaan komersil. Entah mungkin dengan nama lain, namun divisi tersebut akan selalu ada dan biasanya justru menjadi ‘anak emas’ di perusahaan tersebut.
Terkadang bahkan ada persaingan antara divisi keuangan dan pemasaran, mengingat divisi marketing yang lebih focus pada pola pemasaran perusahaan dan keuangan yang begitu focus pada manajemen dana dan laba di perusahaan itu.
Karena divisi pemasaran adalah yang bertugas mengelola pola pemasaran di perusahaan, lalu divisi lain seringkali memiliki stereotype bahwa ‘masalah pemasaran tangung jawab divisi pemasaran’, dan disinilah masalahnya.
Kegiatan pemasaran itu, begitu meluas, hingga semua divisi, bagian, stakeholder dari perusahaan itu sesungguhnya harus saling menunjang demi membantu kelancaran proses pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan tersebut.
Suatu kegiatan pemasaran begitu meluas, hingga mencakup pembentukan brand image dari perusahaan tersebut, dari merek yang disandang perusahaan itu. Sebaik apapun treatment pemasaran dan se-top apapun para pejabat pemasaran dalam divisi pemasaran tersebut, tidak akan dapat menjamin keberhasilan dari strategi pemasaran yang dilakukan apabila tak ditunjang dengan kolaborasi kerjasama dalam semua bagian dalam perusahaan itu. Dengan kata lain, manajemen perusahaan yang solid dapat menunjang keberhasilan proses pemasaran di perusahaan tersebut.
Saya mendengar sebuh cerita mengenai kekurangjelian sebuah perusahaan travel terhadap pola manajemen perusahaannya.
Travel ini berdiri sekitar pertengahan tahun 1990-an, dan berlokasi di Bandung. Singkat cerita, travel ini pada asalnya adalah sebuah perusahaan yang benar-benar dibangun dari bawah oleh pemiliknya, dengan pribadi pemiliknya yang baik dan selalu berusaha menyejahterakan bawahannya.
Pada awalnya, pola manajemen yang begitu ‘makmur’ dan kekeluargaan di travel ini sanggup membuat karyawannya merasa nyaman, hingga ada kepuasan dan optimalisasi dalam kinerja karyawan dan para drivernya, dan tentunya ini dapat meningkatkan kepuasan konsumen juga akan pelayanan dari karyawan dan drivernya tersebut.
Hingga akhirnya sekitar 2 tahun terakhir ini, terjadi sebuah pergholakan. Manajemen di perusahaan itu mengalami pengetatan, hingga semua biaya yang dirasa berlebih pun dipangkas. Bonus yang biasanya didapat oleh driver tiap 15 hari kerja pun berubah menjadi 20 hari kerja. Upah perharinya pun menurun. Para drivernya tak lagi dalam system kontrak, namun hanya perjanjian tanpa batas waktu masa kerja. Para drivernya dianggap sebagai mitra kerja, namun pada kenyataannya mereka mendapat upah harian, layaknya buruh pekerja.
Sempat terjadi demo hingga banyak driver senior yang memilih hengkang dari travel tersebut. Mereka memilih untuk mencari travel dan pekerjaan lain yang lebih bias menunjang kebutuhan hidupnya.
Saya pun berbicara dengan salah seorang drivernya. Dia seorang driver dengan pelayanan yang cukup baik. Meskipun penghasilannya kini berkurang, dengan tanggungan hidup istri dan beberapa anak, namun dia tetap mensyukuri pekerjaannya. Dan untungnya, pengetatan manajemen ini tidak seperti travel lainnya, mereka tidak kejar setoran, jadi driver ini pun merasa lega, biar dengan upah yang sudah berkurang, namun dia tak perlu memforsir kesehatannya.
Namun yang saya kaji dari sini adalah, bahwa untuk alasan apapun pengetatan manajemen yang dilakukan oleh travel tersebut, seharusnya mereka tetap bisa memperhatikan kesejahteraan karyawan dan drivernya. Memberi mereka asuransi yang baik, mengingat mereka adalah driver yang jam terbangnya kadang hingga larut malam. Apabila upah mereka mencukupi, tentunya saat mereka bekerja pun, mereka akan lebih focus, karena tidak ada pemikiran lainnya yang mengganggu saat sedang bekerja.
Jika karyawan sejahtera, maka karyawan itupun seolah akan menjadi advocates customer yang membela merek yang diyakininya. Selayaknya para pekerja yang membela perusahaan tempat dia bekerja, hingga akhirnya tak bertambah kibnerja pegawai tersebut, namun juga loyalitasnya pada perusahaan itu, dan image dari perusahaan itu pun akan lebih baik karena ditunjang oleh persepsi konsumen dari luar dan dari internalnya, oleh para karyawannya yang mengembar-gemborkan kebaikan perusahaannya. Beruntung travel yang saya bicarakan Di atas masih memiliki para pegawai yang loyal, hingga ada saja yang tetap memilih bekerja. Semoga manajemennya bisa diperbaharui mengingat para pegawainya begitu respect terhadap para atasan dan pemiliknya.

Minggu, 14 Juni 2009

Keseimbangan Penerapan Marketing Mix

Bagi para marketers, marketing mix atau bauran pemasaran adalah salah satu strategi pemasaran yang sudah sangat familiar di telinga. Marketing mix, yang terdiri dari variable 4P (Poduct, Price, Place, dan Promotion), semenjak ide awalnya oleh Neil Borden, yang lalu dikembangkan oleh E. Jerome McCarthy sekitar tahun 1960-an, yang kemudian begitu gencar digaungkan oleh Philip Kotler, kini telah bertambah menjadi 7P, yaitu 3P selanjutnya adalah Bukti Fisik (Physical Evidence), Proses (Process) dan Orang (People). Marketing mix adalah sebuah taktik dalam mengintegrasikan unsur penawaran, logistik, dan cara mempromosikan produk atau jasa Anda. Tidak hanya perlu melakukan penawaran yang menarik, Anda juga harus memikirkan taktik yang tepat dalam mendistribusikan dan mempromosikannya.
Kesesuaian 7 kombinasi tersebut dapat menunjang tiap variable hingga suatu kegiatan pemasaran dapat sukses sebegitu baiknya dan membantu adanya perkembangan pada pembangunan company, dan bukan tak mungkin meningkatkan penjualan anda.
Permasalahannya disini adalah, bagaimana kita bisa menyelaraskan ketujuh kombinasi tersebut agar tidak timpang salah satunya. Seimbang dalam penerapannya, karena jika hanya unggul dibeberapa variable saja, maka sesungguhnya marketing mix yang menjadi strategi pemasaran anda itu sendiri yang akan menggagalkan pemasaran anda.
Saya akan memberi contoh kegagalan penerapan salah satu layanan internet yang promosinya begitu gencar dengan pangsa pasar remaja hingga pebisnis muda di wilayah Bandung. Layanan internet ini memberikan penawaran yang begitu menggiurkan, dengan kecepatan konektivitas, kemudahan penggunaannya, harga yang relevan, dan banyak promosi lainnya. Intinya, layanan internet ini begitu sukses dalam promosi yang dilakukannya dengan promo dan tampilan yang inovatif dan begitu mudah menarik. Kalau dilihat secara umum, layanan internet ini berhasil melakukan general advertising dan masuk dalam mind share konsumen.
Namun, ternyata gencarnya promotion disini tak diimbangi dengan keberhasilan pada variable lainnya, seperti place dan product. Pada product, ternyata dari pihak layanan internet ini seolah tak memiliki kesiapan dalam memfasilitasi boomingnya layanan internet mereka di pasaran. Target audience yang menggunakan layanan ini ternyata melebihi prediksi, sehingga jaringan konektivitas layanan ini menjadi crowded. Penawaran layanan internet dengan kecepatan tinggi pun, mulai mengalami penurunan, akibat begitu banyaknya pengguna layanan internet tersebut. Pihak mereka bahkan ‘baru’ merencanakan akan menambah BTS, sementara konsumen sudah mulai mengeluh dan banyak yang posting di blog, yang tentunya dapat mempengaruhi brand mereka.
Pada place, yaitu saluran distribusinya, ternyata mereka pun juga mengalami kekurangan. Akibat begitu banyaknya pengguna layanan internet mereka, layanan internet ini pun tak dapat mengontrol peredaran voucher isi ulang mereka. Sehingga konsumen lagi-lagi mengeluh. Mereka menyatakan kekecewaannya dikarenakan begitu sulitnya mencari voucher internet tersebut.
Begitu banyaknya keluhan yang datang, hingga posting di blog-blog pun beredar berisi cacian, makian, hingga seruan untuk lebih baik pindah ke layanan internet lainnya. Namun tetap saja perusahaan tersebut tak bergeming. Mereka tak sigap menanggapi ini. KEPUASAN KONSUMEN BERPENGARUH PADA LOYALITAS KONSUMEN. Lovelock (1991:44) menjelaskan bahwa tingkat kesetiaan dari para konsumen terhadap suatu barang atau jasa merek tertentu tergantung pada beberapa faktor: besarnya biaya untuk berpindah ke merek barang atau jasa yang lain, adanya kesamaan mutu, kuantitas atau pelayanan dari jenis barang atau jasa pengganti, adanya risiko perubahan biaya akibat barang atau jasa pengganti dan berubahnya tingkat kepuasan yang didapat dari merek baru dibanding dengan pengalaman terhadap merek sebelumnya yang pernah dipakai.” Semakin konsumen merasa puas terhadap suatu produk, maka dia pun akan mengalami experience, hingga konsumen tersebut loyal pada produk itu dan akhirnya dia pun bisa menjadi advocates consumer, dimana konsumen tersebut sudah sampai di tahap secara sukarela dia merekomendasikan produk yang digunakannya itu. Dan tentunya ini bisa menjadi impact dari word of mouth dan pemasaran yang gratis. Sesuai dengan posting saya terdahulu, marketer masa kini tak lagi hanya menekankan pada inovasi produk dengan biaya berlebih. Low-budget high-impact!
Maka sebaiknya mari kita benar-benar memahami kombinasi dari marketing mix tersebut. Jangan hanya mengetahuinya lalu seenaknya menerapkan. Tapi harus ada keseimbangan dalam penerapan marketing mix tersebut. Karena sebuah strategi bisa menjadi senjata untuk kita apabila kita salah dalam penerapannya.

Daftar Blog Saya

Mengenai Saya

Foto saya
I am a product of imagination who dwells in a faraway castle. This blog is not related to my profession in real life but meant to be a tool for me as a human to share my thoughts and notions. This blog was initially started as a project in my college time because I took marketing communication as my concentration but it appears that I need a vessel of my imagination so here we are ! PS: pardon my language or thoughts if you feel it's quite offensive :)

Pengikut

Arsip Blog